Tampilkan postingan dengan label teknik biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknik biologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2013

Belajar Bioethanol dari Brazil







Biofuel yang sudah dikembangkan sebagai substitusi BBM saat ini adalah biodiesel dan bioetanol. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif pengganti solar, sedangkan bioetanol adalah bahan bakar alternatif pengganti gasoline yang biasa disebut gasohol (campuran antara gasoline dan alkohol). Peranan kedua jenis bahan bakar alternatif ke depan akan sangat penting dalam mengatasi masalah krisis energi di Indonesia.

Biodiesel diproduksi dari bahan yang mengandung ester metil/etil asam-asam lemak. Pembuatan biodiesel yang paling umum adalah dengan proses methanolysis dan ethanolysis lemak atau minyak lemak. Produk biodiesel diantaranya minyak kelapa sawit atau CPO (Crude Palam Oil) , minyak pohon jarak pagar atau CJCO (Crude Jatropha Curcas Oil), minyak nyamplung, kacang, jagung, dan sebagainya (Chumaidi, 2008). Sedangkan bioetanol diproduksi dari tumbuhan penghasil karbohidrat seperti tebu, nira sorgum, nira nipah, singkong, ganyong, ubi jalar, dan tumbuhan lainnya melalui proses fermentasi glukosa dengan bantuan mikroorganisme (Sukur, 2012).

Brazil telah mengembangkan biofuel yang bersumber dari tebu sejak 1925 dengan dukungan penuh dari pemerintah. Dari seluruh produksi tebu, 50 % diantaranya digunakan untuk industri bioetanol, sedangkan sisanya untuk industri gula (ESDM, 2008). Pada 2005, konsumsi biofuel Brazil mencapai 13 miliar liter. Jumlah itu berarti mengurangi 40 % dari total kebutuhan bensin. Adapun produksi etanol tumbuh 8,9 % per tahun. Menurut catatan Uniao de Agroindustria Canavieira de Sao Paulo, agrobisnis tebu juga menyerap satu juta tenaga kerja dengan luas lahan 5,44 juta hektar (2004). Setiap tahun luas lahan tebu tumbuh 6 %, didorong oleh peningkatan permintaan dari industri pengolahan gula dan alkohol (Khudari, 2012).

Keberhasilan Brasil ini setidaknya disebabkan oleh empat hal yaitu kelembagaan, optimalisasi pasar domestik, dukungan finansial, serta dukungan lembaga riset. Dalam kelembagaan, perumusan kebijakan umum industri berbasis tebu berada di bawah wewenang Badan Pengembangan Gula dan Alkohol yang bertugas memformulasi kebijakan sektor gula dan alkohol untuk menciptakan produk yang berkualitas dan kompetitif. Optimalisasi pasar domestik dilakukan dengan kebijakan menetapkan range kadar alkohol yang dicampur dalam bensin yang dijual. Dukungan finansial dilakukan dengan memberikan kredit berbunga rendah kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan. Adapun dalam riset, The Brazilian Agriculture Research Corporation dituntut untuk melakukan berbagai penelitian dan pengembangan bidang bioteknologi dengan orientasi pada terciptanya proses produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif (Khudari, 2012). Konsistensi dan sinergitas pemerintah-swasta dalam mengembangkan biofuel ini pada gilirannya telah mengantarkan Brazil sebagai negara super power dunia di bidang pertanian dan energi terbarukan.

Sumber 

Jumat, 25 November 2011

Aku dan Jurusanku

Alhamdulillah, ini terbitan yang kedua.
Aku masuk ITB tanpa disangka-sangka, masuk Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati juga tidak disangka-sangka. Apalagi aku masuk jurusan Bioengineering ITB juga tidak disangka-sangka. Begitulah hidupku.
Lahir di dalam keluarga yang kurang mampu, aku dengan bantuan Beasiswa Bidik Misi bisa melanjutkan untuk kuliah di kampus Ganesha ini.
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati adalah salah satu bagian dari 12 fakultas yang ada di kampus ITB. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati atau biasa disebut SITH, dulu hanya memiliki 2 buah jurusan, yakni Biologi (BI) dan Mikrobiologi (BM). Sedangkan untuk saat ini, di SITH ITB ada tambahan satu jurusan lagi yakni Bioengineering (BE). Sehingga kini total ada 3 jurusan.
Untuk Bioengineering, juga bisa di sebut Rekayasa Hayati atau juga Teknik Biologi. Bioengineering adalah jurusanku sekarang, Aku merupakan 1 dari 40 orang pertama yang mencetak sejarah di Indonesia, hal ini dikarenakan Bioengineering ITB merupakan jurusan Bioengineering pertama di Indonesia.
Di SITH sendiri mempunyai satu himpunan mahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa SITH (HIMA-SITH) "NYMPHAEA ITB". Walaupun ada tiga jurusan, kami tetap satu himpunan.
Mungkin itu aja postingan kali ini, mungkin bisa dilanjutkan ke postingan-postingan hari berikutnya...
Syukron Katsiran teman-teman.........