ALKALOID


Dalam uji Meyer didapatkan adanya endapan di dasar tabung reaksi, namun jumlahnya sangat sedikit. Hal ini diakibatkan dari daun yang kami gunakan jumlahnya sedikit sedangkan pelarutnya ditambahkan dalam jumlah banyak. Hal ini menunjukkan hasil yang positif, endapan yang terbentuk jumlahnya sedikit sehingga mendapat nilai +1 untuk uji Meyer ini. Endapan yang terbentuk tidak jelas warnanya karena jumlahnya yang terlalu sedikit. Pada modul praktikum, uji Meyer menjadi positif apabila terdapatnya endapan kuning muda dibagian dasar tabung, hal itu menunjukkan adanya kandungan senyawa-senyawa  alkaloid yang terdapat dalam daun-daun yang diuji tersebut.

Sebaliknya pada uji Dragendorff, hasil positif jika didapatkan endapan berwarna jingga. Dalam percobaan kami dalam uji Dragendorff didapatkan sedikit endapan di dasar tabung reaksi. Akan tetapi, warna endapan tidak begitu jelas karena jumlahnya yang terlalu sedikit. Sehingga didapat nilai +1 dalam uji dragendorff pada percobaan ini. Hal ini menunjukkan adanya bukti bahwa terdapat senyawa alkaloid di dalam daun tersebut.

Pada percobaan uji KLT didapat tiga buah nilai jarak noda ke batas bawah pelat. Dari ketiga jarak tadi didapatkan tiga buah nilai Rf yaitu 0,775 - 0,475 - 0,225. Dari hasil uji KLT didapatkan bahwa ada 3 buah senyawa yang mempunyai 3 jenis kepolaran yang berbeda. Senyawa dengan Rf  0,775 mempunyai sifat non polar, sehingga senyawa tersebut ikut terbawa oleh eluen kloroform yang bersifat non polar. Sedangkan untuk senyawa dengan Rf  0,475 mempunyai sifat agak polar, sehingga jarak noda jauh dari batas atas pelat KLT. Untuk senyawa ketiga mempunyai sifat polar, hal ini dikarenakan senyawa ketiga tertahan dengan pelat KLT yang mempunyai sifat polar. Hal ini mengakibatkan senyawa hanya mempunyai Rf yang nilainya kecil.

Pada saat ekstraksi alkaloid dari daun jambu digunakan asam sulfat, hal ini bertujuan untuk memisahkan antara senyawa alkaloid basa dengan senyawa organik lainnya berdasarkan sifat alkaloid. Alkaloid bersifat basa dengan adanya gugus nitrogen yang mempunyai 2 elektron bebas. Sehingga kalau ditambahkan suatu asam, dalam percobaan ini adalah asam sulfat, maka akan terjadi reaksi antara alkaloid basa dan asam sulfat dengan membentuk garam dan produk sekunder berupa air. Sehingga didapatkan dua fasa dalam tabung reaksi, yaitu fasa polar dengan fasa non polar. Fasa polarnya adalah air dan fasa non polarnya merupaka larutan kloroform. Dalam percobaan ini yang diambil adalah lapisan air karena dalam air itu terlarut garam hasil reaksi antara senyawa alkaloid basa dengan asam sulfat.

Alkaloid mempunyai dua jenis, yaitu alkaloid asam dan alkaloid basa. Alkaloid yang terlarut dalam air pada tabung reaksi disebut alkaloid basa, karena mampu bereaksi dengan suatu asam membentuk suatu garam yang selanjutnya larut dalam air. Untuk alkaloid basa, nantinya akan diuji dengan uji Meyer dan Dragendorff. Sedangkan alkaloid asam tidak bereaksi dengan asam sehingga alkaloid ini masih terlarut dalam fase non polar, yang selanjutnya diuji dengan uji pelat KLT.

Senyawa alkaloid mempunyai kemampuan untuk bereaksi dalam uji Meyer dan Dragendorff, hal itu dikarenakan  dalam senyawa alkaloid terdapat gugus nitrogen yang masih memiliki satu pasang elektron bebas yang menyebabkan senyawa-senyawa alkaloid  bersifat nukleofilik dan cenderung bersifat basa. Akibat dari hal itu, senyawa-senyawa alkaloid mampu untuk mengikat ion-ion logam berat yang bermuatan positif dan membentuk senyawa-senyawa kompleks tertentu yang berwarna. Reagen Meyer dan Dragendorff dibuat dari senyawa yang mengandung ion-ion logam berat.

Reaksi antara reagen Meyer atau Dragendorff dengan suatu senyawa alkaloid merupakan reaksi asam-basa. Logam-logam berat dalam reaksi ini berfungsi sebagai asam lewis, sedangkan senyawa alkaloid bertindak sebagai basa lewis. Logam-logam berat dikatakan asam lewis karena mempunyai sifat untuk menerima elektron dari suatu basa lewis. Alkaloid bertindak sebagai basa karena mempunyai 2 buah elektron yang belum berikatan sehingga mempunyai kemampuan untuk mendonorkan pasangan elektronnya.



Kolom Ilmu Pengetahuan

Jambu Batu / Biji

Kami menggunakan daun jambu batu / biji dalam uji KLT, Uji Meyer dan uji Dragendorf. Jambu batu (Guava, psidium guajava linn) sendiri  berasal dari Amerika Tengah. Jambu batu dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Jambu ini umumnya ditanam di pekarangan dan di ladang-ladang.

Diantara berbagai jenis buah, jambu biji mengandung vitamin C yang paling tinggi dan cukup mengandung vitamin A. Dibanding buah-buahan lainnya seperti jeruk manis yang mempunyai  kandungan vitamin C 49 mg/100 gram bahan, kandungan vitamin C  jambu biji 2 kali lipat. Vitamin C ini sangat baik sebagai zat  antioksidan. Sebagian besar vitamin C jambu biji terkonsentrasi pada kulit dan daging bagian luarnya yang lunak dan tebal. Kandungan vitamin C jambu biji mencapai puncaknya menjelang matang.  Selain penyedia vitamin C terbanyak, jambu biji juga mengandung banyak serat, khususnya pectin (serat larut air), yang dapat digunakan untuk bahan pembuat gel atau jeli. Manfaat pectin lainnya adalah untuk menurunkan kolesterol yaitu mengikat kolesterol dan asam empedu dalam tubuh dan membantu pengeluarannya.

Kandungan gizi  dalam 100 gram jambu biji diberikan pada tabel berikut ini:
Kandungan
Jumlah
Kandungan
Jumlah
Energi
49,00 kal
Vitamin A
25  SI
Protein
0,90 gr
Vitamin B1
0,05 mg
Lemak
0,30 gr
Vitamin B2
0,04 mg
Karbohidrat
12,20 gr
Vitamin C
87,00 mg
Kalsium
14,00 mg
Niacin
1,10 mg
Fosfor
28,00 mg
Serat
5,60 gr
Besi
1,10 mg
Air
86 gram


Bagian yg dapat dimakan
82 %
Sumber:
1.Dra. Emma S. Wirakusumah, MSc ( Buah dan sayur untuk terapi)
2. Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1996

Jambu biji juga mengandung tannin, yang menimbulkan rasa sepat pada buah tetapi juga berfungsi memperlancar sistem pencernaan, sirkulasi darah, dan berguna untuk menyerang virus. 

Jambu biji juga mengandung kalium yang berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat-zat gizi lainnya ke sel-sel tubuh, mengendalikan keseimbangan cairan pada jaringan dan sel tubuh  serta menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah, serta menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Dalam jambu biji juga ditemukan likopen yaitu zat nirgizi potensial lain selain serat. Likopen adalah karatenoid (pigmen penting dalam tanaman) yang terdapat dalam darah (0,5 mol per liter darah) serta memiliki aktivitas anti oksidan. Selain itu, jambu biji juga berkhasiat anti radang, anti diare dan menghentikan pendarahan, misalnya pada penderita demam berdarah dengue (DHF).

Adsorpsi Tanpa Reaksi


Biasanya kebutuhan gas yang dibutuhkan dalam sebuah reaksi terpenuhi dengan adanya sejumlah gas yang terlarut dalam cairan sebagai akibat fenomena kelarutan gas dalam sebuah cairan. Namun kelarutan gas dalam cairan memiliki keterbatasan kondisi. Kelarutan akan menurun bila terjadi penurunan tekanan ataupun kenaikan temperatur. Pada kondisi tertentu, jumlah gas yang terlarut dalam cairan akan sampai ke suatu nilai tertentu saja dimana nilainya tidak bisa ditingkatkan lagi.
Reaksi antara fasa gas dan cair membutuhkan hold up yang tinggi karena reaksi berlangsung secara lambat. hold up yang tinggi dapat dicapai dengan meningkatkan jumlah gas yang diumpankan ke dalam reaksi. Padahal jumlah gas yang terlarut dalam cairan tidak sebanding dengan banyaknya udara yang dibutuhkan dalam rekasi sehingga udara tersebut mampu menjadi faktor pembatas laju rekasi. Namun harapannya bahwa kita harus menyuplai udara agar udara yang terlarut tinggi sehingga udara bukanlah pereaksi pembatas.
Pada saat ini, teknologi yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan udara dalam cairan yaitu dengan mengalirkan gelembung-gelembung udara dalam air. Semakin luas permukaan gelembung yang bersentuhan dengan air maka transfer massa yang terjadi akan semakin baik. Namun gelembung ini tidak bisa bertahan cukup lama di dalam air. Jika hal itu terjadi, udara yang diumpankan ke dalam larutan nantinya tidak banyak termanfaatkan dan terbuang sia-sia. Maka, dibutuhkan suplai gas umpan yang mampu waktu tinggal yang lebih lama agar hampir seluruh gas yang diumpankan dapat berekasi dengan cairan untuk membentuk produk secara optimal.

Proses perpindahan massa sangat penting dalam bidang ilmu pengetahuan teknik. Perpindahan massa terjadi pada komponen dalam campuran berpindah dalam fase yang sama atau dari fase satu ke fase yang lain karena adanya perbedaan konsentrasi (Welasih, 2006). Proses perpindahan masa antara fasa liquid dan fasa solid banyak dipakai dalam industri, oleh karena itu data-data berhubungan dengan proses perpindahan masa tersebut sangat dibutuhkan.
Menurut Singh (2001), proses transfer massa dipengaruhi oleh 9 faktor:
1. Luas permukaan kontak bahan dengan air perendam. Semakin besar luas permukaan kontak bahan dengan air perendam maka transfer massa yang  terjadi semakin banyak.
2. Kadar air di dalam bahan. Semakin tinggi kadar air bahan, maka makin lambat pula kecepatan difusinya.
3. Konsentrasi, semakin besar perbedaan konsentrasi, maka transfer massa semakin cepat.
4. Jarak dari permukaan ke pusat bahan. Semakin besar jarak dari permukaan ke pusat bahan maka transfer massa terjadi semakin lama karena untuk mencapai kesetimbangan yang merata dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya.
5. Semakin lama waktu perendaman, laju pergerakan transfer massa semakin lambat karena perbedaan konsentrasi semakin kecil.
6. Karakteristik bahan mempengaruhi transfer massa dalam kecepatan difusivitas. Hubungan keduanya yaitu semakin besar nilai difusivitas maka transfer massa semakin cepat.
7. Suhu juga mempengaruhi laju proses transfer massa, semakin tinggi suhu maka pori-pori semakin besar karena protein pada membran rusak (terdenaturasi) dan proses difusivitas semakin cepat.
8. Tekanan osmosis juga dapat mempengaruhi laju proses difusivitas.    Semakin tinggi tekanan osmosis maka transfer massa semakin cepat.
9. Dan yang terakhir yaitu porositas. Semakin besar/semakin banyak pori pada bahan maka semakin cepat transfer massa. Hal ini dikarenakan semakin banyak porositasnya menyebabkan luas permukaannya semakin besar.  
Perpindahan massa dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh, sedikit gula dimasukkan kedalam secangkir kopi pada akhirnya akan larut dengan sendirinya dan mendifusi ke seluruh bagian larutan. Banyak proses pemurnian yang menyangkut perpindahan massa. Dalam proses uranium, larutan garam uranium diekstraksi dengan pelarut organik. Distilasi pemisahan alkohol dari air juga menyangkut perpindahan massa. Pemisahan SO dari “flue gas” dilakukan dengan adsorpsi dalam pelarut dasar (Geankoplis, 1997).
Sedangkan proses adsorpsi ini menurut Cheremisinoff (1978) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Karakteristik fisika dan kimia dari adsorben.
2. Karrakteristik fisika dan kimia dari adsorbat seperti ukuran partikel, polaritas molekul, komposisi kimia dan lain-lain.
3. Konsentrasi adsorbat didalam fase cair.
4. pH, jika proses adsorpsi tidak terjadi pada level pH tertentu, maka variasi level pH harus ditentukan. Dalam melakukan pengaturan pH harus benar-benar diperhatikan untuk menyakinkan bahwa perubahan pH tidak mengubah produk utama.
5. Temperatur
6. Waktu kontak antara adsorben dan adsorbat.
Salah satu proses perpindahan massa yaitu perpindahan udara ke suatu cairan yang biasa kita kenal dengan proses aerasi. Proses aerasi pada air suatu cairan dapat ditempuh dengan dua cara, yang pertama yaitu memasukkan udara ke dalam air limbah dan yang kedua memaksa air ke atas permukaan untuk berkontak dengan udara (Adam, 2010). Cara yang kedua ditempuh dengan menggunakan mekanik aerator yang mempunyai baling – baling sehingga mampu menciptakan turbulensi air di saat kontak udara dengan air.
Salah satu biorekator yang bisa digunakan untuk memberikan aerasi untuk larutan adalah Bioreaktor Air Lift. Reaktor Air Lift merupakan salah satu jenis bioreaktor yang banyak digunakan dalam proses fermentasi secara aerob. Parameter yang berpengaruh dalam perancangan reaktor air lift adalah hidrodinamika reaktor dan koefisien perpindahan massa.
Pada reaktor air lift dibagi menjadi dua bagian dengan penyekat yaitu zone riser dan downcomer. Riser merupakan bagian dengan sirkulasi aliran tempat mengalir gas atau merupakan kolom yang berisi cairan atau slurry yang disemprotkan gas, sedangkan downcomer merupakan bagian yang kedua dan tempat sirkulasi aliran dalam reaktor. Perbedaan hold up gas pada daerah yang dialiri gas maupun yang tidak dialiri gas merupakan akibat perbedaan densityfluida pada kedua daerah tersebut. Perbedaan ini mengakibatkan terjadinya sirkulasi fluida dalam reaktor. Pada riser dan downcomer mungkin terdapat plate penyaringan dan baffle pada dinding. Jadi banyak sekali kemungkinan bentuk reaktor dengan keuntungan penggunaan dan tujuan yang berbeda-beda.
Menurut Williams (2002), reaktor air lift mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan reaktor konvensional. Keuntungan itu diantaranya perancangannya sederhana, aliran dan pengadukan mudah dikendalikan, waktu tinggal dalam reaktor seragam, kontak area lebih luas dengan energi input yang rendah dan dapat meningkatkan perpindahan massa. Kelemahan reaktor air lift antara lain : biaya investasi awal mahal terutama untuk skala proses yang besar, membutuhkan tekanan yang tinggi untuk skala proses yang besar, pemisahan gas dan cairan tidak efisien ketika terjadi busa (foaming). Meskipun sudah banyak keberhasilan di industri dari penggunaan air lift, namun macam penggunaannya masih sangat terbatas, karena sedikitnya literature tentang konsep dasar yang digunakan dalam perancangan.
Menurut Thoenes, terdapat 3 tipe aliran gelembung udara, yaitu: aliran gelembung homogen (gelembung udara kecil dengan diameter seragam tersebar merata pada cairan), aliran gelembung heterogen (gelembung besar dengan bentuk tidak teratur bergerak cepat ke atas), dan aliran slug (gelembung udara terbentuk dengan ukuran sebesar diameter kolom).
Sedangkan Mashelkar (1970) mengemukakan bahwa secara umum konsentrasi gelembung udara (εb) dalam kolom ge-lembung mencerminkan retensi gelembung dalam cairan. Konsentrasi gelembung udara (εb) dalam kolom merupakan indikasi besarnya waktu tinggal (residence time) udara dan luas bidang antar fase efektif. Besarnya kandungan udara dalam kolam air yang diberi sparger bervariasi tergantung pada kecepatan superfisial gelembung udara (us).

Daftar Pustaka
Adam, P., Rochmadi, Kamulyan, B. 2010. Pengaruh Kecepatan Superfisial Dan Hold-Up Gelembung Udara Pada Kolom Aerator Vertikal Terhadap Koefisien Transfer Oksigen. http://pdm-mipa.ugm.ac.id/ojs/index.php/ijc/article/viewFile/372/389 pada tanggal 5 Maret 2013 pukul 16.30
Cheremisinoff. Paul, N., Ellerbusch, F. 1978. Carbon Adsordtion Handbook. Ann Arbor Science Publishers, inc, Michigan.
Geankoplis, C. 1997. Transport Processes and Unit Oprations,3th edition. Allyn & Bacon. Hal. 45-49.
Mashelkar, A. 1970. Bubble Columns, British Chemical Engineering, 15(10). Hal. 1297-1304.
Merchuk, G. Bioreactors, Air-Lift Reactors. http://faculty.ccbcmd.edu/courses/bio141/lecguide/unit6/metabolism/growth/growthob.html pada tanggal 6 Maret 2013 pukul 21.30
Nurhasanah, Darusman, L., Sutjahjo, S., Widiati, B. 2007. Efektivitas Pemberian Udara Berkecepatan Tinggi Dalam Menurunkan Polutan Leachate Tpa Sampah: Studi Kasus Di Tpa Sampah Galuga Kota Bogor. http://repository.ipb.ac.id/ojs/index.php/ijc/article/viewFile/372/389 pada tanggal 4 Maret 2013 pukul 20.30
Singh, R. Paul., and Heldman, D. R. 2001. Introduction to Food Engineering 3rd edition. Academic Press : California, USA.
Thoenes, D. 1994. Course on Two-phase Reactors.
Williams, JA. 2002. Keys To Bioreactor Selections. Chem. Eng. Prog, hal 34-41.
Welasih, Tjatoer. 2006. Penentuan Koefisien Perpindahan Massa Liquid Solid Dalam Kolom Packed Bed Dengan  Metode Adsorpsi. diunduh dari http://ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/tekkim/article/download/14/10 pada tanggal 4 Maret 2013 pukul 20.30.


TRITERPEN DAN STEROID

Label: , ,



Indikator keberhasilan untuk percobaan uji Liebermann-Burchard yaitu berubahnya larutan menjadi kegelap-gelapan dari sebelumnya. Warna kehitam-hitaman itu dikarenakan adanya sistem terkonjugasi dari struktur triterpen dalam percobaan. Dalam percobaan yang kami lakukan, didapat nilai dari kandungan triterpen adalah +3, karena terbentuk warna hijau kehitam-hitaman yang awalnya berwarna hijau jernih. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan triterpen dan steroid pada daun jambu batu berjumlah banyak.

Sedangkan pada uji busa daun jambu batu dalam percobaan, nilai yang didapatkan adalah +3, karena busa yang terbentuk setelah ditambahkan air dan dikocok kuat-kuat sangat banyak dan mampu bertahan lama dalam tabung reaksi. Tingginya busa dalam hasil ekstraksi lebih dari 3 cm tepatnya 4 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa pada daun jambu batu, sangat banyak jumlah saponin yang terkandung dalam ekstraknya.

Setelah dilakukan Kromatografi lapis tipis, Rf dari jambu batu yang didapat yaitu dalam perhitungan berikut.
Perhitungan Rf :
2,0 cm à  Rf =  0,50

Rf triterpen yang didapat dari literatur dengan eluen diklorometana dan heksana adalah 0,92 (Fernando, et.al., 2009).  Data diatas, kurang sesuai dengan literatur yang didapat dalam referensi. Rf triterpen yang didapat saat praktikum kurang sesuai dengan literatur, hal ini dimungkinkan karena eluen yang sudah lama di botol dalam kondisi lingkungan yang tidak sesuai, atau dalam percobaan yang kita dapat bukan merupakan triterpen atau senyawa lain yang mempunyai sifat yang hampir sama dengan triterpen. Senyawa Triterpen mempunyai sifat nonpolar, untuk eluen yang digunakan dalam percobaan ini bersifat nonpolar, sehingga keduanya sama-sama nonpolar.

Pada uji Kromatografi Lapis Tipis sebelum diberi Asam Sulfat yang tampak dalam pelat KLT setelah disinari dengan UV adalah adanya senyawa steroid. Sedangkan tujuan diberi Asam Sulfat agar salah satu senyawa turunan triterpen terlihat oleh UV. Adanya warna pada pelat setelah dikeringkan sesudah diberi Asam Sulfat disebabkan adanya resonansi sehingga timbul warna tertentu.

Terpena merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan terutama terkandung pada getah dan vakuola selnya. Pada tumbuhan, senyawa-senyawa golongan terpena dan modifikasinya, terpenoid, merupakan metabolit sekunder. Dari segi geometrinya senyawa terpenoid merupakan senyawa hidrokarbon isometrik yang juga terdapat pada lemak/minyak esensial (essential oils), yaitu sejenis lemak yang sangat penting bagi tubuh. Manfaat senyawa terpenoid bagi tubuh manusia sendiri yaitu membantu tubuh dalam proses sintesa organik dan pemulihan sel-sel tubuh. Selain itu juga menambah daya tahan tubuh bagi manusia.

Contoh turunan terpen yang mempunyai gugus isoprena didalamnya, dalam hal ini monoterpen yang disebut β-Mircena.

Selain itu ada juga salah satu jenis senyawa yang mengandung gugus diterpen yang disebut Cembren.
Senyawa steroid merupakan jenis senyawa yang komponen organiknya berisi sebuah susunan kerangka karakteristik dari empat cincin sikloalkana yang saling berikatan satu dengan yang lainnya. Steroid mempunyai manfaat yang banyak dalam tubuh terutama sebagai hormon dalam tubuh. Hormon steroid mampu disintesis sendiri oleh tubuh manusia dan juga disintesis tumbuhan-tumbuhan dan hewan. Manfaat hormon steroid yang lain yaitu untuk menurunkan berat badan, terutama untuk penderita obesitas, diabetes, dan lupus.  Selain itu, senyawa steroid juga mampu meningkatkan kekebalan tubuh. 
Saponin merupakan kelompok senyawa organik yang banyak didapatkan dari alam, senyawa saponin juga merupakan senyawa metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Saponin bagi tubuh manusia berfungsi untuk menurunkan berat tubuh manusia.

Data Fisik dan Kimia

Ø  Dikloro metana

v  General

Synonyms: HCC 30, methane dichloride, methylene chloride, methylene dichloride, aerothene MM, DCM, narkotil, solaesthin, solmethine, NCI-C50102, R 30, methylene bichloride, Freon 30 
Molecular formula: CH2Cl2 

v  Physical data
Appearance: colourless liquid 
Melting point: -97 C 
Boiling point: 40 C 
Vapour density: 2.9 
Vapour pressure: 6.8 psi at 20 C 
Specific gravity: 1.32 
Flash point: none 
Explosion limits: 14 % - 22% 
Autoignition temperature: 661 C 
Water solubility: slight
v  Stability
Stable. Incompatible with alkali metals, aluminium, strong oxidizing agents, strong caustics, some forms of plastic, titanium. A small amount of added amylene (1-pentene) may be present to enhance stability.
Ø  Ethanol
v  Physical and Chemical Properties
Physical State: Clear liquid
Appearance: colorless
Odor: Mild, rather pleasant, like wine or whis
pH: Not available.
Vapor Pressure: 59.3 mm Hg @ 20 deg C
Vapor Density: 1.59
Evaporation Rate:Not available.
Viscosity: 1.200 cP @ 20 deg C
Boiling Point: 78 deg C
Freezing/Melting Point:-114.1 deg C
Decomposition Temperature:Not available.
Solubility: Miscible.
Specific Gravity/Density:0.790 @ 20°C
Molecular Formula:C2H5OH
Molecular Weight:46.0414
Section 10 - Stability and Reactivity
Chemical Stability: Stable under normal temperatures and pressures.
Conditions to Avoid: Incompatible materials, ignition sources, excess heat, oxidizers.
Incompatibilities with Other Materials: Strong oxidizing agents, acids, alkali metals, ammonia, hydrazine, peroxides,
sodium, acid anhydrides, calcium hypochlorite, chromyl chloride, nitrosyl perchlorate, bromine pentafluoride, perchloric
acid, silver nitrate, mercuric nitrate, potassium-tert-butoxide, magnesium perchlorate, acid chlorides, platinum, uranium
hexafluoride, silver oxide, iodine heptafluoride, acetyl bromide, disulfuryl difluoride, tetrachlorosilane + water, acetyl
chloride, permanganic acid, ruthenium (VIII) oxide, uranyl perchlorate, potassium dioxide.
Hazardous Decomposition Products: Carbon monoxide, irritating and toxic fumes and gases, carbon dioxide.
Hazardous Polymerization: Will not occur.


Ø  Sulfuric Acid
v  General
Synonyms: oil of vitriol, mattling acid, vitriol, battery acid, dipping acid, electrolyte acid, vitriol brown oil, sulphuric acid
Molecular formula: H2SO4

v  Physical data

Appearance: Colourless oily liquid
Melting point: -2 C
Boiling point: 327 C
Specific gravity: 1.84
Vapour pressure: <0.3 mm Hg at 20 C (vapour density 3.4)
Flash point:
Explosion limits:
Autoignition temperature:
Water solubility: miscible in all proportions
v  Stability
Stable, but reacts with moisture very exothermically, which may enhance its ability to act as an oxidizing agent. Substances to be avoided include water, most common metals, organic materials, strong reducing agents, combustible materials, bases, oxidising agents. Reacts violently with water - when diluting concentrated acid, carefully and slowly add acid to water, not the reverse. Reaction with many metals is rapid or violent, and generates hydrogen (flammable, explosion hazard).

Ø  Ether
v  General
Synonyms: ether, ethyl ether, ethoxyethane, 1,1'-oxybis ethane, diethyl oxide, aether, ethyl oxide, aether, anesthetic ether, rcra waste number U117, solvent ether
Molecular formula: C4H10O

v  Physical data
Appearance: colourless liquid
Melting point: -116 C
Boiling point: 34.6 C
Specific gravity: 0.71
Vapour pressure: 400 mm Hg at 18 C
Flash point: -40 C
Explosion limits: 1.7% - 48%
Autoignition temperature: 170 C
Water solubility: 6.9% (20 C)

v  Stability
Stable, but light-sensitive, sensitive to air. May contain BHT (2,6-di-tert-butyl-4-methylphenol) as a stabilizer. Substances to be avoided include zinc, halogens, halogen-halogen compounds, nonmetals, nonmetallic oxyhalides, strong oxidizing agents, chromyl chloride, turpentine oils, turps substitutes, nitrates, metallic chlorides.
Extremely flammable. This material is a serious fire and explosion risk. Vapour may travel considerable distances to ignition sources, which need not be an open flame, but may be a hot plate, steam pipe, etc. Vapour may be ignited by the static electricty which can build up when ether is being poured from one vessel into another. If large quantities of material are being poured, suitable precautions must be taken.

ALDEHID DAN KETON

Label: , , ,


            Aldehid dan keton merupakan suatu senyawa organik dengan gugus fungsional karbonil, C=O. Atom karbon pada gugus fungsi karbonil ini masih memiliki sisa dua tangan untuk berikatan dengan atom lain. Apabila salah satu tangan mengikat atom hidrogen, maka gugus fungsi senyawa tersebut adalah aldehid. Sedangkan bila kedua tangannya tidak ada yang mengikat atom hidrogen, maka senyawa tersebut adalah keton. Dalam penamaan IUPAC, senyawa yang termasuk keton akan memiliki akhiran –one dan untuk senyawa aldehid akan memiliki akhiran –al. Dalam percobaan kali ini, dilakukan empat macam uji untuk aldehid dan keton yaitu uji asam kromat, uji iodoform, uji 2,4,DNP,  dan uji tollens.
            Dalam uji asam kromat, prinsip percobaan yang dilakukan adalah menambahkan asam kromat yang akan menyebabkan aldehid teroksidasi menjadi asam karboksilat. Sedangkan pada keton, tidak akan terjadi reaksi oksidasi. 
            Dalam pengujian asam kromat, aldehid akan berubah menjadi warna hijau sedangkan keton akan berubah menjadi warna kekuningan. Dalam percobaan kali ini, ada beberapa hasil yang tidak sesuai dengan literatur dan tidak dapat dilihat bahwa semua senyawa yang bernama aldehid bereaksi menjadi warna kehijauan dan senyawa yang bernama keton menjadi warna kekuningan.

Pada pengujian asetaldehid dengan asam kromat, yang pada awalnya asetaldehid berwarna bening setelah direaksikan dengan asam kromat menghasilkan warna biru kehijau-hijauan. Hal ini menandakan bahwa dari reaksi antara asetaldehid bereaksi dengan asam kromat membentuk keton. Percobaan ini sesuai dengan literatur yang telah kami dapatkan.
Pada pengujian benzaldehid dengan asam kromat  yang pada awalnya reaktan berwarna bening dan kuning, setelah direaksikan dengan asam kromat menghasilkan warna jingga. Hal ini menandakan bahwa dari reaksi antara benzaldehid dengan asam kromat tidak membentuk keton. Percobaan ini tidak sesuai dengan literatur yang telah kami dapatkan. Hal ini mungkin disebabkan kondisi senyawa yang direaksikan kurang bagus sehingga percobaan tidak sesuai dengan literatur, ataupun senyawa yang kami gunakan kehilangan sifat aslinya karena suhu lingkungan tidak mendukung selama disimpan dalam ruang penyimpanan.
Pada pengujian pentanon dengan asam kromat, pada awalnya pentanon berwarna bening setelah direaksikan dengan asam kromat menghasilkan warna jingga. Hal ini menandakan bahwa pentanon dapat bereaksi dengan asam kromat . Percobaan ini sesuai dengan literatur yang telah kami dapatkan yakni perubahan warna dari produk menjadi jingga dari asalnya berwarna bening.
Untuk Larutan B, kami mendapatkan bahwa larutan B awalnya berwarna bening. Dan setelah bereaksi dengan asam kromat berubah warna menjadi biru kehijau-hijauan. Hal ini menandakan bahwa larutan B merupakan senyawa jenis aldehid. Hal ini seperti yang dijelaskan pada literatur yang sudah didapatkan.
            Dalam uji tollens, prinsip percobaan yang dilakukan adalah penambahan ion Ag+ dari Ag(OH)2. Pada aldehid, akan terjadi reaksi yang menyebabkan ikatan atom karbon yang mengikat atom =O dan –H akan mengikat atom O sehingga senyawa Ag(OH)2 akan menjadi Ag yang akan menghasilkan endapan cermin perak. Pada keton reaksi tersebut tidak dapat terjadi karena atom karbon pada keton keduanya tangannya mengikat atom selain H. Dalam percobaan yang dilakukan, penambahan cermin perak memberikan hasil positif untuk semua senyawa yang dinamai aldehid dan  negatif untuk yang dinamai keton. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
  Dalam percobaan yang kami lakukan, asetaldehid dan benzaldehid memberikan reaksi positif dalam pengujian dengan Tollens. Dan untuk pentanon, tidak terjadi reaksi apapun. Hal ini sesuai literatur yang kami dapatkan.
Untuk larutan B, dari uji Tollens menghasilkan hasil uji positif. Hal ini dapat disimpulkan bahwa larutan B merupakan senyawa aldehid. Sehingga uji Tollens yang kedua ini menguatkan pada uji asam karbonat yang sebelumnya, bahwa senyawa B merupakan suatu senyawa aldehid. 
Dalam pengujian DNP, prinsip percobaan yang dilakukan adalah terjadinya reaksi adisi dan eliminasi pada ikatan rangkap =O pada gugus karbonil. Reaksi ini tidak dilakukan dalam senyawa tersebut. Gugus =O akan disubstitusi oleh  gugus =N-R dari DNP.
Pada uji dengan DNP, asetaldehid maupun benzaldehid tidak terbentuk dua fasa seperti yang ada di literatur. Warna yang dihasilkan dari uji DNP merupakan perpaduan antara bening dan jingga kecoklat-coklatan, sehingga hasil akhir larutan berwarna jingga.
Untuk benzaldehid dan dan aseton menghasilkan warna yang sama juga, yaitu berwarna jingga. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang telah didapatkan.
Hal yang berbeda didapat saat uji DNP dalam larutan B. Hasil yang didapatkan berwarna kuning, didapat antara pereaksi bening dan pereaksi berwarna jingga.

Dalam pengujian larutan B dengan asam kromat didapati hasil bahwa larutan larutan B mirip dengan percobaan yang sama yang dilakukan dengan senyawa aldehid. Pada pengujian Tollens, larutan B memberikan reaksi yang mirip dengan senyawa aldehid lain.  Hal ini menguatkan bahwa senyawa B merupakan suatu senyawa aldehid. Pada uji 2,4-dinitrofenilhidrazin terjadi kegagalan dan tidak sesuai dengan literatur, hal ini dapat disebabkan karena terlalu lamanya reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin disimpan pada ruangan terbuka, sehingga sifat aslinya lama kelamaan menghilang. Sehingga, pereaksi 2,4-dinitrofenilhidrazin tidak maksimal untuk menguji aldehid dan keton saat praktikum. Sedangkan pada uji tollens, kemungkinan besar senyawa asetaldehid juga telah hilang sifat aslinya karena penyimpanan pada ruangan terbuka dan suhu kamar yang terlalu lama.

Lampiran
Ø  Asam kromat
Physical state and appearance: Liquid.
Odor: Not available.
Taste: Not available.
Molecular Weight: Not applicable.p. 4
Color: Clear Red.
pH (1% soln/water): Acidic.
Boiling Point: The lowest known value is 100°C (212°F) (Water).
Melting Point: Not available.
Critical Temperature: Not available.
Specific Gravity: Weighted average: 1.07 (Water = 1)
Vapor Pressure: The highest known value is 2.3 kPa (@ 20°C) (Water).
Vapor Density: The highest known value is 0.62 (Air = 1) (Water).
Volatility: Not available.
Odor Threshold: Not available.
Water/Oil Dist. Coeff.: Not available.
Ionicity (in Water): Not available.
Dispersion Properties: See solubility in water, diethyl ether.
Solubility: Easily soluble in cold water, hot water. Soluble in diethyl ether.

Ø  NaOH
Physical state and appearance: Solid.
Odor: Odorless.
Taste: Not available.
Molecular Weight: 40 g/mole
Color: White.
pH (1% soln/water): 13.5 [Basic.]p. 4
Boiling Point: 1388°C (2530.4°F)
Melting Point: 323°C (613.4°F)
Critical Temperature: Not available.
Specific Gravity: 2.13 (Water = 1)
Vapor Pressure: Not applicable.
Vapor Density: Not available.
Volatility: Not available.
Odor Threshold: Not available.
Water/Oil Dist. Coeff.: Not available.
Ionicity (in Water): Not available.
Dispersion Properties: See solubility in water.
Solubility: Easily soluble in cold water.

Ø  Amoniak
Physical and Chemical Properties
Physical state (gas, liquid, solid) :  Gas
Vapor pressure at 70 F :  94 psia
Vapor density at 60 F (Air = 1) :  0.62
Evaporation point :  Not Available
Boiling point :  -28  F
Freezing point :  107.9 F
pH :  Not Available
Specific gravity :  Not Available
Oil/water partition coefficient :  Not Available
Solubility (H20) :  Very soluble
Odor threshold :  Not Available
Odor and appearance :  A colorless gas with a pungent odor.

Ø  Asam nitrat
Physical and Chemical Properties
Physical State: Liquid
Appearance: clear to yellow
Odour: strong odour – acrid odour
pH: 1.0 (0.1 M solution)
Vapour Pressure: PARTIAL PRESSURE: 70% (w/w): 0.37-0.4  kPa (2.78-3 mm Hg) at 20 C (3,14); 0.547 kPa (4.1 mm Hg) at 25 C
Vapour Density: 2.17 (air = 1) (calculated).
Evaporation Rate: No information available.
Viscosity: No information available.
Boiling Point: 68% (w/w): 120.5 C (248.9 F)
Freezing/Melting Point: 70% (w/w): -41 C (-42 F)
Decomposition Temperature: No information available.
Solubility: Soluble in all proportions.
Specific Gravity/Density: 68% (w/w): 1.41 g/cm3, 70% (w/w): 1.42 g/cm3
Molecular Formula: HNO3
Molecular Weight: 63.0119

Ø  Iodin
Physical state and appearance: Solid.
Odor: Sharp Characteristic. (Strong.)
Taste: Not available.
Molecular Weight: 253.81 g/mole
Color: Purple solid with metalic luster. (Dark.)
pH (1% soln/water): Not available.
Boiling Point: 184.4°C (363.9°F)
Melting Point: 113.7°C (236.7°F)
Critical Temperature: Not available.
Specific Gravity: 4.93 (Water = 1)
Vapor Pressure: Not applicable.p. 4
Vapor Density: Not available.
Volatility: Not available.
Odor Threshold: Not availabe
Water/Oil Dist. Coeff.: The product is more soluble in oil; log(oil/water) = 2.5
Ionicity (in Water): Not available.
Dispersion Properties: See solubility in water, methanol, diethyl ether.
Solubility: Easily soluble in diethyl ether. Soluble in methanol. Very slightly soluble in cold water, hot water.