Petasan Ramadhan ke 2

Sesuai kebiasaan, santri pondok putri tiap malam habis salat tarawih pada bulan ramadhan selalu naik ke lantai tiga pondok mereka. Mereka sering mengobrol di lantai tiga pondok mereka yang tidak mempunyai atap. Tempat ini biasanya digunakan untuk menjemur pakaian. Mereka disini biasanya juga melihat indahnya langit malam.

Lantai tiga pondok kami juga sama seperti mereka, tempat untuk menjemur dan tanpa ada atapnya. Lantai tiga pondok kami dan lantai pondok santri putri hanya terpisah kurang dari sepuluh meter. Di lantai tiga pondok kami juga ada kubah mushala. Dan apabila kami berdiri di kubah mushala pondok, kami bisa melihat kepala para santri putri. Tetapi tubuh mereka tertutup oleh tingginya tembok yang mengelilingi lantai 3 pondok santri putri sebelah.

Petasan telah siap dan berada di kantong gus kecil, adiknya gus yang mengajak kami menjahili santri putri. Gus kecil sekarang masih kelas lima Sekolah dasar. Tapi keberaniannya di segala hal tidak perlu diragukan lagi.

Gus yang mengajak kami menjahili pondok sebelah dengan petasan bernama gus Riza, dia masih kelas satu SMP. Sedangkan adiknya bernama Gus Fikri yang merupakan anak ke empat abah dari enam bersaudara.

Di lantai tiga pondok putri terdengar suara ramai bercandaan para santri putri. Hal ini merupakan kesempatan terbaik untuk menjahili para santri putri yang jumlahnya cukup banyak.

Korek api menyala. Petasan siap dilempar. Aku (temanku yang bernama Rizka, memakai kata aku biar lebih terasa pelakunya) menjadi pelempar pertama petasan. Perang dunia ketiga segera dimulai ketika aku sudah melemparkan petasan pembuka. Peristiwa jahil yang mempertemukan antara pondok puta belakang putra dan pondok putri belakang. Jantungku berdtak cukup kencang bak serigala akan menerkam mangsanya yang hanya beberapa senti saja di depannya. Sangat cepat. Ketakutanku ada beberapa. Ketakutan pertama jika aku salah melemparnya dan jatuh ke rumah warga sekitar pondok. bisa-bisa, aku tinggal menunggu cincangan dari Abah pondok. Atau bahkan aku di sate dan kemudian dibakar habis-habisan. Kedua, meledak mengenai jemuran anak perempuan dan kemudian terbakar. Bisa-bisa nanti pondok putri belakang terjadi kebakaran hebat. Itu sangat berbahaya.

Dengan segala daya dan mengesampingkan itu aku bersiap untuk menmbakkan peluru pertama melalui meriam besar. kapal musuh sudah dekat. Mau tidak mau aku harus secepatnya melemparkan peluru dari meriamnya.

Sekuat tenaga aku melempar petasan ke pondok putri sebelah. Kertas yang berbentuk tabung dan disertai uceng yang sudah menyala merah merona terbang bak komet yang menembus atmosfer bumi. Berjuang sekuat tenaga petasan itu melawan angin dengan bermodal gaya dorong dariku. Petasan itu agak berbelok akibat ada seikit gaya dari angin. Sekarang mulai menembus atmosfer dari pondok putri. Bertabrakan dengan gas oksigen. Berusaha untuk terus melaju sampai  tempat tujuan. Tidak mau berhenti jika belum terlaksana tugasnya.

Bulan sabit sepertinya mulai tidak tega ketika petasan yang aku lempar hanya kurang dari satu meter menyentuh lantai tiga pondok putri. Bulan sabit hanya bisa menutup matanya namun tetap berada di atas kami. Menunaikan tugas mulia menyinari bumi.

“Apa itu???????????” Teriak salah satu santri pondok putri ketika melihat sebuah titik putih merah menyala bergerak mendekati lantai pondoknya.

“jedaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.” Suara keras dari meriam di perang dunia ketiga begitu kerasa sampai ke telinga kami. Kami tersenyum antar santri putra lain di tengah petangnya malam. Apalagi sekarang hanya bulan sabit, bukan bulan purnama.

“Ada petasannnnnnnnnnn.........” teriak salah satu anak pondok putri setelah petasan pertama meledak.

Lemparanku tepat sasaran. Untunglah tidak mengenai baju yang sedag dijemur.

Santri putri berteriak histeris dan semakin lama teriakannya semakin hilang pertanda kami harus menyerang untuk kali kedua.

Gus besar mengambil sebuah petasan kretek yang bentuknya bulat dan mempunyai satu uceng. Dinamakan ptasan kretek karena suaranya yang kretek-kretek seperti pohon bambu yang patah.

Petasan sudah dinyalakan. Aku lagi yang akan melempar. Semua santri lain belum menunjukkan keberaniannya sehingga aku maju lagi untuk menyerang pondok putri sebelah.

Petasan terbang tinggi lagi, dan sepertinya santriwati pondok sebelah sudah mengantisipasi sehingga dari jauh sebelum meledak mereka sudah berteriak ketakutan. Mereka sepertinya mengumpul di sebuah tempat yang tidak mungkin kami jangkau dengan kekuatan melempar kami.

Angin malam berhembus sepoi-sepoi dan lagi-lagi mengganggu kestabilan laju petasan ke target. Petasan terus melaju dan memasuki wilayah kekuasaan pondok putri. Pertarungan antar gender. Gender laki-laki sebagai penyerang dan gender perempuan sebagai bertahan.

Petasan makin dekat dengan pondok putri.

“Itu....Itu........ petasannyaaaaaa............ Lariiiiiiiiiiiiiiii..............”

Petasan yang sangat diharapkan untuk kembali memporak-porandakan kubu lawan tidak terdengar sampai telinga kami. Suasana sepi. Seketika santriwati pondok sebelah ramai.

“Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee................”

Dengan sangat jelas kami mendengar mereka gaduh sekali karena petasan yang kami lemparkan ke sana gagal. Dengan rasa menyesal petasan itu masuk ke dalam timba yang penuh dengan air. Timba yang biasa digunakan oleh santriwati untuk mencuci baju. Kami gagal. Mereka tertawa riang.

Aku mudur, aku tidak beruntung untuk lemparan kedua. Sekarang gantian Gus Riza yang mengganti posisiku sebagai pelempar.

Dan lemparan yang ketiga ini sukses besar, begitu juga lemparan keempat. Petasan keempat telah membuat mereka mengosongkan seisi lantai tiga pondok mereka.

Suasana begitu legang, tidak ada suara bercandaan dari pondok sebelah lagi, yang ada hanyalah suara jangkrik yang semakin lama semakin keras.

Suasana semain lama semain dingin saja. Angin-angin bertiup sepoi-sepoi menerpa kulit kami. Dinginnya malam tidak menghilangkan senyum kami. Kami seolah mendapatkan kemenangan setelah berhasil membuat gaduh pondok putri disebelah pondok kami. Kami tidak tahu kapan lagi akan melancarkan kejahilan berikutnya. Kami bisa tersenyum dan tertawa melihat kegaduhan santriwati pondok putri sebelah. Untungnya hari ini kejahilan kami tidak ketahuan siapapun termasuk abah pondok yang sangat kami takuti apabila Beliau marah. Kejahilan yang membabi buta di malam bulan Ramadhan ini.

Di pondok ini mempunyai 5 orang Gus, anak pertama sekarang mondok di tempat antah berantah yang aku sendiri belum tahu. Untuk anak kedua adalah seorang putri yang biasa dipanggil Ning. Kami memanggilnya Ning Rina dan kini juga sedang mondok di sebuah pondok terbesar di kota kediri. Anak ke 3 dan ke 4 nya yaitu yang menemani kami menjahili pondok putri tadi dan anak yang ke 5 dan 6 adalah Gus kecil, namanya Gus Nafi’ dan Gus Ian.

Menurutku, aku sekarang bukanlah mondok akan tetapi aku disini kost di rumah Seorang Pak Kyai. Tapi bedanya kami juga ngaji kitab dan untuk lebih mudahnya kami menyebutnya mondok bukan kost karena kami juga mengaji kitab khas anak pondokan.


0 komentar:

Poskan Komentar