Misi Rahasia

Label:


Ini adalah sebuah misi kelima setelah dinyatakan geng ini terbentuk. Misi kelima yang sangat konyol, lebih konyol daripada yang dulu kami lakukan. Aku mulai memegang bagian atas pagar pondok madrasah. Kami mulai melakukan aksi, keluar dari madrasah diam-diam. Nama geng kami adalah geng nyetrik. Yang memberi nama bukanlah kami, tapi teman sekelas kami yang diam-diam memanggil kami sebagai geng nyetrik Karena tampilan kami aneh2 tidak biasa.

Aku dengan gaya rambut berdiri semua yang sangat cool bgt. Rambutku sepert kawat berduri. Menyalak-nyalak ke atas menantang petir. Mungkin kalau aku di taruh di atas genteng sekolah saat hujan berpetir, rambutkulah yang pertama tersambar. Petir selalu mencari tempat terdekat untuk segera menetralkan muatannya yang sangat negatif. Tempat menetralkan adalah bumi.

Setiap hari aku memakai pelumas rambut sehingga rambutku bercahaya saat terkena matahari. Mungkin dari ketiga kelompok yang lain, akulah yang palih rapi dari gaya pakaiannya. Aku taat peraturan kalau di depan guru madrasah aliyah, dan suka menjadi musuh dalam selimut jika di belakang.

Riko, si kutu buku yang tidak disangka2 mau masuk geng kami. Padahal dia anaknya sgt pandai tapi tetep mau berteman dengan geng kami yangh notabene anak nakal. Dia selalu membawa buku kecil sepeti catatan kemana-mana. Dia pandai tapi ia sering pelupa. Sehingga aktivitas2nya harus ia catat dalam buku kecil itu agara tidak lupa. Terkadang kita jalan-jalan bersama geng, dia satu-satunya yang membawa buku. Dia juga sering kita manfaatkan sebagai seretaris geng kami.

Zomi, namanya aneh dan dia sendiri tidak tahu artinya. Dia adalah ketua geng kami. Dia yang menjadi provokator ulung. Wajahnya mirip seorang narapidana yang membuat teman-temannyanya takut sama dia. 90% celananya yang setiap hari dipakai pasti robek dibagian lututnya. Dia sepertinya hanya memeliki sebuah celana yang lututnya tidak robek karena tingkahnya yang aneh2. Satu-satunya celana yang tidak robek di lututnya yaitu celana biru benhur yang biasa digunakan saat hari senin maupun selasa. Hari senin adalah hari dimana semua seragam siswa madrasah aliyah dicek satu persatu. Ketika memakai celana rombengan maka dapat dipastikan akan dihukum dan disuruh membeli celana baru. Jika ketemu lagi minggu depannya masih memakai celana rombengan maka dengan cara paksa pihak keamanan sekolah akan menggunting celana rombeng itu saat pulang sekolah agar celana itu secepatnya diganti. Zomi pernah dikejar polisi. Pernah jatuh dari motor saat kebut-kebutan. Dikejar satpam sekolah karena ingin pulang dahulu sebelum bel pulang berbunyi. Bertarung dengan para preman-preman pasar gara-gara menginjak kaki preman karena sengaja dan masih banyak lagi perbuatan nekatnya melawan marabahaya.

Orang terakhir di geng kami yaitu james bond. Sebenarnya itu bukan namanya asli. Ia diberi nama itu karena dia begitu ngefans berat dengan james bond. Buku tulisnya bergambar james bond. Ikat pinggangnya juga bermerek james bond yang aku sendiri tidak tahu dari mana ia beli. Tasnya yang rombeng sana sini juga ada tempelan kain bertuliskan james bond. Rambutnya kribo menyerupai tumbuhan beringin membuatnya makin nyetrik aja. Dia masuk Madrasah Aliyah karena kelakuannya yang tidak baik sehingga orang tuanya memaksa untuk masuk sekolah agama biar dia kembali ke jalan yang benar.

Kami mulai melompat ke tembok madrasah yang cukup tinggi. Kami sebenarnya kesulitan, tapi tekat kami sungguh kuat sehingga dapat melewati dengan mudah. Tapi celana zomi semakin sobek menjadi-jadi setelah melompat dari pagar pembatas madrasah dan lingkungan luar madrasah.

Yang membuat kami sebel yaitu riko. Dia yang paling lelet dalam misi rahasia ini untuk lolos dari kejaran satpam madrasah yang larinya secepat sprinter kelas dunia. Dari sekian kali anak madrasah aliyah ini kabur, tidak ada yang bisa lolos dari sprinter tingkat wahid ini. Kami boleh bangga dengan kehebatan kelompok kami. Kami berempat bisa berbangga karena belum sekalipun kami tertangkap olehnya. Kami berempat adalah empat-empatnya orang yang tidak pernah kalah dari sprinter madrasah aliyah itu. Mungkin karena kami belum terkalahkan dalam lari itu yang membuat kami bersatu membuat geng ini. Walaupun sprinter kelas wahid itu sangat cepat larinya, pasti kalah cerdik sama kami si geng nyetrik tiada tanding. Kami berempat bangga dengan hal itu.

Ini kelima kalinya kami berempat mempunyai misi rahasia, kabur dari madrasah sebelum bel pulang. Kira2 bel pulang masih 3 jam lagi. Sedangkan kami 3 jam kedepan adalah harus mengerjakan tugas yang boleh dikerjakan di rumah. Guru yang mengajar kami hari ini sakit. 3 jam pelajaran dia mengajar sehingga kami berempat memutuskan untuk secepatnya berkeliaran di luar pondok.

Riko membuat misi rahasia ini ketahuan oleh satpam madrasah. Satpan itu ebrlari super cepat sehingga membuat kami panik. Kami mencoba menarik riko dari luar pagar agar riko cepat-cepat bisa keluar dari pagar  madrasah.

Wajah menyeramkan satpam madrasah semakin lama semakin terlihat jelas. Rambutnya yang masih hitam menandakan bahwa ia masih muda dan pantas berlari kencang secepat kilat. Di sakunya ada nametag yang bertuliskan Sudjono. Kami anak madrasah aliyah biasa memanggilanya satpam jono. Di samping ikat pinggangnya ada sebuah benda yang seperti pisau yang dipakai kebanyakan satpam. Bajunya putih dan bercelana biru panjang membuatnya seperti anak SMP. Kacamatanya lumayan tebal. Poin terakhir ini yang biasa kita manfaatkan sehingga lolos dari sprinter kelas dunia ini.

Tangan Satpam jono hanya bisa menghembuskan anginnya ke sepatu riko. Hampir saja. Kejadian dramatis. Kami lolos dari satpam jono.

Apabila terlambat sedetikpun, kaki riko akan tersentuh oleh satpam jono, sprinter tingkat dunia yang menjadi satpam. Kami tidak bisa membayangkan apabila kami telat sedetikpun. Sebuah kesalahan fatal. Riko akan menjadi tumbal yang mau tidak mau karena kami adalah kawan sejatinya juga harus menyerah. Menemani meuju pengadilan di kantor satpam. Menerima hukuman.

Perjuangan kami ternyata belum selesai. Satpam jono mulai membuka sebuah pintu yang berada di dekat kami. Pintu itu tadinya dikunci. Tetapi demi keperluan untuk mengejar anak nakal seperti kami maka mau tidak mau harus mengejar para pelanggar tata tertib sekolah.

Jantung kami berempat semakin lama semakin berdetak kencang. Kami semakin gugup. Misi rahasia yang bisa dikatakan mendekati gagal. Padahal sebelum-sebelumnya bisa lolos dengan mudah. Mungkin inilah yang dinamakan peluang seperti yang diajarkan oleh guru matematika kami nantinya. Dari sekalian kali percobaan paling tidak ada peluang bertemu dengan satpam ini.

“Kaburrrrrrrrr.................................” teriak zomi.

Dia komandan yang sangat sigap saat situasi berbahaya seperti ini. Mau tidak mau. Percaya tidak percaya kami harus mengikuti aba2na agar tidak tertangkap oleh satpam.

Secepat mungkin kami langsung lari. Kami mencari peluang untuk lolos. Kami ingin berlari secepat mungkin agar jarak lari kami memungkinkan lolos dari satpam yang jago sekali lari itu. Mungkin satpam ini tidak pantas jadi satpam, seharusnya jadi atlet lari dan mewakili ke kejuaraan internasional. Bahkan mengikuti di berbagai olimpiade seperti olimpiade Atena ataupun yang kini sedang ngetrend yaitu olimpiade Beijing yang sebentar lagi diadakan.

Kami sudah berjarak 7 meter dari satpam hebat itu. Kami harus mencatatkan rekor bahwa kami berempat adalah kumpulan orang yang belum sekalipun tertangkap oleh satpam hebat ini.

“Secepat mungkin masuk sawah yang ada ditanami tebu diujung sana. Jangan sampai wajah kita dikenali oleh satpam. Jangan menoleh ke belakang. Sebisa mungkin kita bersembunyi di areal sawah yang ditumbuhi tebu. Kita bertemu di base camp.”

Dengan lugas komandan kami menginstruksikan sinyal bahaya yang sedikit sekali melakukan kesalahan fatal akan membuat kita tertangkap, tertangkap satpam hebat itu. Satpam yang kehebatannya sudah diakui oleh kehebatannya oleh semua siswa madrasah.

Kami lari diatas galengan-galengan sawah yang lebarnya hanya 30 sentimeter. Itu hal gila. Berlari sekaligus menjaga keseimbangan adalah suatu hal yang sangat sulit.

Semakin lama-satpam itu mendekat dengan kami. Kami sekarang hanya bertiga. Komandan memilih jalan yang berbeda dari kami. Tujuannya yaitu untuk mengalihkan perhatian satpam, tetapi yang dikejar malahan kami, anak buahnya.

Hingga suatu ketika satpam itu tepat 1 meter dibelakangku. Aku terengah-engah. Jantungku berdetak super cepat. Aku akan tertangkap. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku sangat takut. Apakah aku akan menjadi tumbal?

Di depanku ada james bond dan yang paling depan lagi adalah riko. Untungnya riko larinya sekarang sudah lebih baik daripada dulu saat pertama kali aku kejar-kejaran dengannya saat bermain benteng-bentengan. Dia selalu aku dapatkan dengan mudah sehingga dia menjadi tawanan benteng kami. Tapi hal itu seolah tidak berguna, sebentar lagi aku akan tertangkap oleh satpam. Sepertinya aku harus segera taubat jika memang aku hari ini aku benar-benar tertangkap. Hukuman apa yang pasti akan aku terima.

“Ssssrrrrrrrrrkkkkkkkkkkkk................ brrrrrrrrrruuuuukkkk” suara seseorang terjatuh dari galengan sawah.

Aku fokus memandang ke depan. Riko tidak terjatuh, begitu juga dengan james bond. Apa tadi nyawaku tiba-tiba terjatuh karena tidak kuat menempel ragaku. Lalu siapa yang terjatuh. Apakah zomi terjatuh di galengan sawah yang lain?

Aku sebenarnya tidak berani memandang ke belakang. Takut aku malah tidak fokus memandang ke depan dan tertangkap satpam hebat itu. Tapi aku harus memastikan bahwa nyawaku tidak terjatuh.
Aku menengok ke belakang walaupun akibatnya aku bisa menjadi korban berikutnya yang terjatuh di lumpur-lumpur sawah. Aku melihat ternyata satpamlah yang terjatuh di lumpur-lumpur sawah yang berjarak 7 meter dibelakangku. Hatiku seakan meneriakkan, merdekaaaaaaaaa!

Kami bisa membuat satpam yang hebat itu kalang kabut mengejar kami yang sangat solid. Wajah kami tersenyum bahagia di tengah kerumunan tumbuhan-tumbuhan tebu yang menjulang tinggi setinggi 2 meter.
Satpam itu bangkit kembali. Sinyal bahaya kembali berbunyi. Celaka. Riko yang tadi membuat kesalahan sehingga kami terlihat oleh satpam dan mengancam keselamatan jiwa raga kami ternyata kini memiliki ide brilian. Dia langsung belok ke arah tumbuhan-tumbuhan tebu yang sangat rumbuk. Aku mengerti, kita harus bersembunyi. Rambut james bond dari tadi terus berkibar seperti pohong beringin yang terkena badai topan ganas seperti yang terjadi di Negeri Paman Sam. Rambutnya kribo berkelebat-kelebat seperti bendera merah putih yang dinaikkan saat upacara bendera hari senin.

Kami masuk ke dalam sebuah populasi tebu. Menyelinap dalam ekosistem sawah. Jantung kami terus berdegup kencang. Kami belum bisa lolos dari marabahaya. Dari kejauhan terdengar langkah kaki yang berlari dan kemudia berhenti.

“Ayo keluar brandal-brandal tengik. Aku tahu kalian pasti bersembunyi di sekitar sini. Ayo menyerah.”
Suara nafas yang terengah-engah dari satpam semakin lama semakin terdengar keras. Dia 1 meter di depanku. Ini gila kesekian kalinya. Kami harus menahan gerak dan memperkecil suara-suara yang bisa saja kami buat. Suara-suara gesekan daun-daun tumbuhan tebu semakin keras sehingga menyamarkan hembusan keras nafas kami.

Aku melihat sebuah sepatu penuh lumpur, begitu juga aku melihat celana yang kaya lumpur sana-sini saat dedanuan tebu menyibak ke atas semua karena terpaan angin. Aku takut persembunyian kami terkuak. Kami sudah tidak bisa berlari lagi. Aku sangat takut sekali.

Untung satpam ini tidak melihat kami saat dedaunan menyibak dan kini dedaunan ini mulai tertutup kembali. Aku melihat wajah riko seakan mau berteriak. Dengan sigap aku menutup mulutnya yang benar-benar mau berteriak. Dia berteriak karena melihat 2 buah ulat di rambut kribo james bond. Mulut riko mengembung akibat aku menahan mulutnya agar tidak terbuka. Hampir saja kesalahan yang lain kami buat.
kami hanya bertiga dalam ketakutan ini. Komandan kami tidak ikut merasakan ketakutan luar biasa ini. Komandan yang hilang entah kemana.

Perlahan secara pasti satpam yang tadi mengejar kami berjalan menjauh dan menyangka bahwa kami telah kabur jauh dan tidak bersembunyi di sini. Kejadian yang berlalu begitu cepat. Setiap detik adalah penting.
Aku yakin, satpam itu tidak akan melaporkan kejadian ini ke pusat keamanan sekolah. Mungkin dia takut kalau dia disangka sangat lemah. Kehebatannya sudah tidak berarti lagi untuk mengejar siswa madrasah. Apalagi bajunya yang sudah kotor membuktikan bahwa dia jauh sangat kalah dengan kami, geng nyetrik.
Akhirnya kami semua kembali ke base camp kami, warung mbah Imam. Warung dimana kami Cuma mengobrol tanpa membeli makanan sedikitpun. kalau sedang dicurigai sedang menumpang saja dan tidak membeli maka salah satu dari kami membeli snack yang harganya 500 rupiahan untuk dimakan bersama. Kemenanagan yang di dapat setelah masa-masa suram dikejar satpam yang seharusnya menjadi atlet lari dalam olimpiade beijing nanti.

4 komentar:

  1. hajahsofya mengatakan...:

    COOOL!
    ngos ngos - an baca nya syaaaams!!
    hahaha
    bikin sendiri ini?
    #kasi4jempol

    parahlah, syams pamer bisa bikin cerpen #hehe ngaco #karena saya gabisaeun

    sebenernya misi rahasianya apa syams?

    btw satpamnya heboh banget mau-maunya ngejer ampe jauh begitu hehe
    :D

  1. Ahmad Syamsu Rizal mengatakan...:

    ini baru testing teh, pengennya cerita bersambung.... gaya bahasanya gimana teh? jelek?

  1. arunin_cece mengatakan...:

    gaya bahasanya bagus kok.. ada tulisan ttg ilmu pengetahuan alamnya jg,, tpi biar lebih lucu, di plesetin pke bahasa org biologi, lengkapkn dengan gen n spesiesx... hehehe
    #maap,,
    komennya agak ngawur... :)

  1. Ahmad Syamsu Rizal mengatakan...:

    Arunin: okelah,,,,, :D

Poskan Komentar